Ismi Islamia Fathurrahmi

Allah's Servant | Muhammad's Ummah | Indonesian Alert | Almost 19 y.o, Still be a joyful single.
Recent Tweets @

mufidahtahir:

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukup bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada pilihan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya”

[HR at-Tirmidzi, no. 2380. Ibnu Majah, no. 3349. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani]

How can I claim to love You if I can’t wake up in the middle of the night to thank You?
Imam Zain-ul-Abideen (A.S) in his words to Allah (S.W.T)
Many people talk about Allah but very few talk to Allah. Bring Tahajjud and Du’a into your life and talk to Him.
Sayyidi Syakh Dr. Muhammad bin Yahya al Husayni an-Ninowy (via simplyhasanah)
Try to pray Tahajjud ( night prayer ) at least once a week and you will find very big differences in your life.
Mufti Ismail Menk (via soul-submission)

Mereka kira, kamu tidak memiliki masalah. Tampak ceria dan membanggakan. Lahir dari keluarga yang hebat juga sekolah yang tinggi. Mereka yang hanya melihatmu dari pukul 9 pagi sampai jam 3 sore mungkin. Ketika di tempat bekerja, di cafe tempat kalian berjanji bertemu, atau berpapas di jalan.

kurniawangunadi:

Pertanyaan menarik : Sering orang berkata, laki-laki dilihat masa depannya, wanita dilihat masa lalunya, bagaimana menurut mas Gun?

Ini saya jawab :

Saya akan menjawab dengan pendapat pribadi, jadi ini subjektif ya :)

Menurut saya, kalimat tersebut sangat picik dan cenderung menyudutkan perempuan. Saya laki-laki dan ketika membicarakan perempuan saya selalu berkaca bagaimana bila itu adalah ibu saya, saudara perempuan saya, atau istri dan anak-anak perempuan saya nantinya.

Masa lalu itu dimiliki setiap orang, baik laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang salah dengan masa lalu. Sayangnya, manusia di jaman kita ini senang sekali membicarakan masa lalu sampai dibuat di program televisi sebagai infotainment (hiburan informasi). Saat informasi mengenai aib justru dijadikan bahan hiburan. Ya keadaan memang seperti itu kan sekarang.

Kalimat pernyataan bahwa “Laki-laki dilihat dari masa depan dan perempuan dari masa lalu” seperti propaganda untuk menguntungkan laki-laki saja. Saya lebih suka melihat seseorang di masa sekarang dan visinya di masa depan lalu dilihat bagaimana dulu dia di masa lalu. Masa depan-sekarang-masa lalu adalah satu kesatuan. Berada dalam satu jiwa dalam satu individu dan jasad. Masing-masing memilikinya dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kecuali orang itu amnesia, tapi tetap saja orang lain akan menyimpan memori tentang masa lalunya itu.

Perempuan, dengan segala penghormatan saya. Sebab ibu saya adalah seorang perempuan. Masa depan yang ada padanya jauh lebih penting daripada apa yang terjadi di masa lalunya. Seburuk apapun masa lalu itu.

Bahkan Allah saja selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengubah dirinya menjadi baik. Memaafkan masa lalu yang mungkin penuh kesalahan.

Bila kita berada dalam posisi itu, dilihat dari masa lalunya. Apa kita mau? Coba tanya ke diri sendiri :)

Kita semua diajarkan untuk berprasangka baik, kan? :)

Cara menasehati seseorang paling baik adalah ketika seseorang itu memang siap menerima nasehat itu. Menasehati saat seseorang sedang tidak siap menerima, itu sama seperti melakukan penghakiman kepadanya.

Juga ingat, nasihat terbaik disampaikan secara diam-diam kepada orang tersebut. Bukan di depan umum.

Ditambah, tidak perlu menjadi orang paling baik dan paling sempurna dulu untuk menjadi orang yang memberi nasehat. Bila orang harus baik dulu baru boleh memberi nasehat, niscaya tidak akan pernah ada nasehat di dunia ini.

Saling mengingatkanlah dengan cara yang baik :)

spiritualaspirant:

Hamza Yusuf said,

❝Khadījah was a great teacher; she has such a maqām (rank) in our religion. She taught the Prophet (ﷺ) who he was; she was the one who elevated him in his esteem. When he had self-doubt she said no. You can see that when the Prophet (ﷺ) married ʿĀʾishah he had no fear of strong women. There are a lot of men who fear strong women, who want them to be wallflowers. Whereas with the Prophet (ﷺ), that’s not the type of people he encouraged. His wives were women who talked back, and the reason he wasn’t afraid was because Khadījah was his first wife. She was a woman of the world. She knew the world and she was completely self-confident. That’s a sunnah of our Prophet (ﷺ): to elevate women.❞

Kalau inilah syaratnya..tak dak sapa yg berani meminang perempuan jelita ini..

Diriwayatkan dalam suatu kisah apabila Rasulullah SAW bersama para Sahabat r.a sedang berada di dalam masjid, ketika sedang Rasulullah SAW mengajarkan ilmu agama kepada para Sahabat, tiba2 datang seorang perempuan yang amat cantik jelita berjumpa Rasulullah SAW. Kecantikkan perempuan tersebut menyebabkan semua sahabat berpaling ke arahnya. Kemudi
an, perempuan tersebut menyatakan hasrat agar Rasulullah SAW mengahwinkan dia dengan salah seorang daripada sahabat-sahabat Baginda SAW, tetapi dengan 3 syarat.

-Syarat pertama ialah bakal suaminya itu tiap-tiap malam mesti mengkhatamkan bacaan al-Quran 30 juzu’.

-Syarat kedua pula, setiap hari suaminya itu hendaklah sentiasa mendirikan ibadat sepanjang malam.

-Syarat ketiga ialah suaminya hendaklah berpuasa setiap hari sepanjang tahun.

Maka dengan syarat ini, sahabat-sahabat Nabi SAW yang memiliki hasrat untuk berkahwin dengan perempuan tersebut hilang rasa keinginan itu. Nabi SAW pun menawarkan kepada para sahabat siapa yang sanggup berkahwin dengan perempuan ini. Akhirnya sahabat yang berada jauh ke belakang sanggup berkahwin dengan perempuan tersebut dengan menunaikan ketiga-tiga syarat tersebut.

Setelah sahabat tersebut berkahwin dengan perempuan yang cantik jelita itu berbulan-bulan lamanya, akhirnya perempuan itu melihat suaminya itu, semakin hari semakin kurang membaca al-Quran, kurang beribadat pada waktu malam, kurang berpuasa. Lalu dia pun pergi berjumpa Rasulullah SAW menceritakan hal suaminya yang telah mengingkari janjinya. Lalu Rasulullah SAW memanggil sahabat tersebut dan bertanyakan kenapa dia tidak menunaikan janjinya ketika mula-mula ingin mengahwini isterinya itu.

Lalu, sahabat tersebut menyatakan Ya Rasulullah: Bukankah engkau pernah menyatakan bahawa pahala membaca Surah Qul Huwallahu Ahad satu kali menyamai pahala membaca 10 juzu’ daripada al-Quran? Jadi aku membacanya sebanyak 3 kali.
Rasulullah SAW menjawab: Ya.

Kemudian, Ya Rasulullah: Bukankah engkau pernah menyebut bahawa dengan membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, maka pahalanya menyamai ibadat sepanjang malam?
Rasulullah menjawab: Ya.

Ya Rasulullah: Bukankah engkau pernah bersabda bahawa Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) 6 hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama 1 tahun?
Rasulullah menjawab: Ya.

Dengan ketiga-tiga jawapan sahabat tersebut, Rasulullah SAW dan isterinya meraikannya dengan senyuman kesyukuran.

Abu Ayyub Al-Ansari ra berkata: Rasulullah saw bersabda :
Maksudnya: “Sesiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dia mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.”
[Sahih Muslim hadis no: 1164].